Type something and hit enter

ads here
author photo
By On
advertise here
Assalamualaikum Wr Wb

Surabaya, 13 Nopember 2016
           Sabtu malam tepatnya pada tanggal 12 November 2016, warga Surabaya berbondong bondong pergi ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) guna menyaksikan pagelaran kebudayaan, audiens sendiri, para jamaah dan tamu undangan telah datang memenuhi lokasi, khususnya para mahasiswa dan jamaah maiyah terlihat lebih awal menempati posisi terdepan dan siap untuk "sinau bareng".

Ribuan Massa mendengarkan kajian cak nun
Ribuan Massa mendengarkan kajian cak nun : Foto by Abdus Salam


 

DIES NATALIS

            Tepat pada tanggal 10 Nopember , Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memasuki usia yang ke 56, untuk memeriahkannya di adakan berbagai acara dimulai dari lomba Logo, peresmian Logo hingga pagelaran kebudayaan, ITS kerap sekali mengundang cak nun dan kyai kanjeng untuk mengisi sejumlah momentum pentingnya , tak hanya memeriahkan ultahnya yang ke 56 ITS mengusung brand baru "Etika, Tata Krama, dan Akhlaqul Karimah lebih penting dari  ilmu pengetahuan" yang dirumuskan dalam  "Salam, Sopan, Santun". 
Logo Dies Natalis ITS
Logo Dies Natalis ITS Sumber: Google
Berawal dari keprihatinan  akan lunturnya etika di kalangan anak muda, ITS tak ingin mahasiswanya mengalami hal serupa, apalagi mereka adalah orang orang yang berilmu dan berpengetahuan, apalah arti punya ilmu tapi tak punya etika, oleh sebab itu Cak Nun bersama Kyai kanjeng mengisi pagelaran tersebut guna memberikan Doa serta Ilmu sehingga ITS dapat menerapkan Brand barunya.


PROFESOR DAN KYAI

            Sudah menjadi hal yang lumrah ketika  Cak Nun berada di Surabaya ribuan massa dengan niat mencari ilmu akan mendatangi di mana Cak Nun mengisi acara tersebut, seperti pagelaran yang di laksanakan di GOR ITS itu ribuan para jamaah dengan wajah taqdimnya mendengarkan petuah petuah yang di sampaikan oleh Cak nun, Salah satu nya ialah 

"Perbedaan seorang Profesor dengan Kyai itu terletak dari spritual guru ke murid sedangkan profesor hanya menanamkan ilmunya saja",

 dikutip dari instagram ala Nu cak nun mengatakan

"kalau kita taat kepada kyai, hakikatnya kita taat pada Allah melalui taat kepada kyai, karena sang kyai tidak menyimpang dari ajaran allah, dan kalau menyimpang tak ada kewajiban untuk taat".

 diperjelas lagi oleh direktorat ITS 

"Profesor hanya menanamkan ilmunya saja tak ada hubungan lain, sedangkan kyai selain menanamkan ilmunya kepada santrinya kyai juga menanamkan hubungan spritual dengan santrinya melalui sebuah doa".
Sungguh beruntungnya seorang santri.

AKHIR DARI CAK NUN

Foto by Badrut Tamam
       Tak seperti biasanya, saat jam menunjukkan pukul 01.30, ribuan jamaah berdiri guna melantunkan doa yang di pimpin okeh kyai muzammil  agar apa yang diperoleh dalam "sinau bareng" ini dapat bermanfaat kedepannya dan sebagai simbolis berakhirnya acara. di iringi musik dari kyai kanjeng ribuan jamaah berbaris rapi dan tertata guna untuk mencari barokah dengan Cak Nun dan para ulama.

Walaikumsalam Wr Wb





2 komentar

avatar

Semoga para profesor indonesia memiliki bagian dari sifat2nya kyai...dan para kyai pun memiliki keluasan ilmu pengetahuan yg tdk kalah dg keluasan ilmu profesor

avatar

Amiin, semoga saja seperti itu

Click to comment